Temukan berbagai fakta kelam di balik kemegahan seni dan budaya Zaman Renaisans, mengungkap sisi gelap yang sering tersembunyi di balik kejayaan era ini.
Zaman Renaisans sering kali dipandang sebagai era keemasan yang penuh dengan kemajuan dalam seni, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Kejayaan para seniman dan ilmuwan seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo, dan Galileo Galilei telah menjadi ikon inspirasi sepanjang masa. Namun, di balik kemegahan dan kemajuan tersebut, terdapat sisi gelap yang jarang terungkap.
Artikel ini akan mengupas 10 fakta kelam yang tersembunyi di balik keindahan dan kemajuan Zaman Renaisans, memberikan perspektif yang lebih lengkap tentang era bersejarah ini.
Fakta Kelam di Balik Kemegahan kejayaan Zaman Renaisans
1. Kebijakan Janisari dan Pajak Darah oleh Ottoman di Balkan
Setelah kejatuhan kekuasaan Bizantium di Balkan, Kesultanan Ottoman mengambil kesempatan untuk mengisi kekosongan kekuasaan yang terjadi.
Menurut informasi dari Boston College, Murad I, Sultan Ottoman, memulai perekrutan tentara budak ke dalam unit militer elit yang dikenal sebagai Janisari.
Dikenal juga sebagai “pajak darah”, sultan-sultan Ottoman mengharuskan keluarga-keluarga Kristen di Balkan, Anatolia, dan Kaukasus untuk menyerahkan satu anak laki-laki mereka setiap beberapa tahun.
Anak-anak ini kemudian dipaksa masuk Islam, dididik, dan dilatih untuk melayani dalam unit Janisari serta birokrasi Ottoman. Meskipun mereka secara teknis adalah budak, mereka menerima gaji dan perlakuan istimewa, dan kesetiaan utama mereka adalah kepada Sultan.
Mereka tidak memiliki ikatan keluarga lain, membuat mereka menjadi pasukan yang sangat loyal dan efektif untuk menjaga kestabilan posisi Sultan.
2. Dominasi Bajak Laut Muslim di Mediterania dan Atlantik

Pada masa-masa tertentu, wilayah pesisir Mediterania dan Atlantik sering kali merasa cemas akibat aktivitas bajak laut dari Afrika Utara, khususnya perompak Maroko dan duo terkenal, Hayreddin Barbarossa bersama saudaranya, Uruç Ali.
Mereka terkenal karena serangannya yang brutal terhadap kapal-kapal dan pesisir Italia, Spanyol, dan Malta, menargetkan khususnya umat Katolik untuk ditawan dan dijual sebagai budak dalam pasar budak Ottoman.
Salah satu keberhasilan mereka yang paling mencolok adalah ketika berhasil mencapai Islandia pada tahun 1627.
Ironisnya, meski beragama Islam, Barbarossa berhasil menjalin aliansi dengan Prancis Katolik untuk mendapatkan perlindungan dan dukungan dalam serangan-serangan mereka terhadap musuh bersama, yakni Habsburg.
Dalam buku “The Forgotten Slave Trade: The White European Slaves of Islam” oleh Simon Webb, diungkap bahwa meskipun tawanan kaya memiliki kesempatan untuk menebus diri, sebagian besar laki-laki dijadikan budak galai, sedangkan wanita sering kali mengalami nasib yang lebih buruk sebagai budak seksual dalam harem.
3. Korupsi dan Politik di Lembaga Kepausan
Selama periode Renaissance, lembaga kepausan tidak hanya menjadi pusat agama tetapi juga pusat politik berkat kekayaan dan pengaruh politik Italia.
Keluarga-keluarga seperti Medici dari Florence dan Borgia dari Aragon mendominasi kepausan, sering kali melalui praktik korupsi yang mengarah pada penyebab Reformasi Protestan.
Misalnya, Paus Alexander VI, Rodrigo de Borja, dikenal memiliki anak-anak dari hubungan di luar nikah dan menempatkan salah satu putranya sebagai uskup agung pada usia muda. Paus Leo X juga terlibat dalam praktik berdosa seperti nepotisme dan pengeluaran yang berlebihan.
Kritik dari para reformator seperti Martin Luther dan Erasmus dari Rotterdam menyoroti kebutuhan akan perubahan, yang pada akhirnya memicu Reformasi Protestan.
4. Kebiadaban Tentara Bayaran Kristen di Eropa Renaisans
Selama era Renaisans, konsep perang telah mengalami privatisasi di Eropa, dengan para penguasa sering mengandalkan tentara bayaran untuk melaksanakan kegiatan militer.
Kelompok seperti condottieri Italia dan Landsknechte Jerman terkenal karena brutalitas mereka.
Menurut sejarawan Alexander Lee dalam bukunya “The Ugly Renaissance: Sex, Greed, Violence and Depravity in an Age of Beauty,” taktik yang sering digunakan oleh condottieri adalah menghindari pertempuran langsung dengan kota-kota berbenteng dan lebih memilih untuk menjarah pedesaan yang lebih rentan.
Kekerasan dan pembantaian menjadi metode umum untuk mencapai tujuan mereka, menyebabkan penderitaan luas di Italia utara dan tengah selama abad ke-15.
Kebrutalan ini mencapai puncaknya ketika sekitar 14.000 Landsknechte Protestan menjarah Roma pada tahun 1527, sebuah insiden yang menjadi simbol kekejaman tentara bayaran di Renaisans.
5. Dampak Reformasi pada Konflik Agama di Eropa

Reformasi, yang dipicu oleh 95 Tesis Martin Luther pada tahun 1521, membawa perubahan signifikan dan konflik berkelanjutan di Eropa.
Tuduhannya terhadap korupsi Gereja Katolik pada pertemuan Imperial Diet di Worms dan perlindungannya oleh Frederick III dari Saxony, yang kemudian mendukung Lutheranisme, menandai awal dari penyebaran luas Reformasi di Jerman Utara dan Skandinavia.
Menurut “The American Interest,” adopsi Lutheranisme sering kali digunakan sebagai alasan untuk menyita tanah milik Gereja Katolik, memperkaya para penguasa lokal dan memberikan landasan untuk menantang dominasi Habsburg.
Transformasi Reformasi dari pergerakan agama menjadi kekuatan politik memicu serangkaian perang agama yang memecah belah Eropa.
6. Toleransi Beragama dan Supresi dalam Konteks Reformasi
Pendirian Gereja Lutheran di bawah Pengakuan Iman Augsburg pada tahun 1530 dan pembentukan Liga Schmalkalden pada tahun berikutnya merupakan respons terhadap upaya Kaisar Charles V yang Katolik untuk memberantas Protestantisme.
Konflik ini mencapai puncaknya dalam Perang Schmalkalden dan intervensi sukses Prancis Katolik pada tahun 1552, yang mempengaruhi hasil Perdamaian Augsburg pada tahun 1555.
Perjanjian ini menerapkan prinsip “cuius regio, eius religio,” yang menyatakan bahwa agama penguasa akan menentukan agama rakyatnya, dengan pilihan bagi para pembangkang untuk pindah ke wilayah yang sesuai dengan keyakinan mereka.
Meskipun ini menandai langkah menuju toleransi beragama, itu juga mengabaikan gereja-gereja yang direformasi lainnya seperti Calvinisme, Zwinglisme, atau Huguenot Prancis, menyebabkan ketegangan lebih lanjut dan memicu Perang Tiga Puluh Tahun, salah satu konflik paling berdarah di Eropa.
7. Perburuan Penyihir di Eropa Utara
Reformasi memicu gelombang perburuan penyihir di Eropa Utara yang berlangsung selama dua abad. Sebelumnya, Gereja Katolik abad pertengahan tidak memiliki pandangan yang konsisten terhadap ilmu sihir, yang kadang dianggap sebagai takhayul kafir dan di lain waktu sebagai serangan iblis.
Namun, penerbitan “Malleus Maleficarum” (Hammer of Witches) oleh pendeta Katolik Heinrich Kramer pada tahun 1486 menandai titik balik.
Kramer berargumen bahwa ilmu sihir telah merajalela di seluruh Eropa dan harus ditindak secara hukum, dengan fokus khusus terhadap perempuan.
Instabilitas selama Reformasi, terutama di Jerman selatan dan Kepulauan Inggris, memicu perburuan penyihir besar-besaran.
Menurut Deutsche Welle, ribuan orang—termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak—disiksa dan dieksekusi atas tuduhan sihir, dengan banyak di antaranya mengaku karena tekanan mental dan fisik.
Metode penyiksaan bervariasi, termasuk dilarang tidur hingga pingsan dan penghinaan publik. Pada akhirnya, munculnya Rasionalisme Pencerahan mengakhiri histeria ini, dengan ilmu sihir tidak lagi dianggap sebagai kejahatan oleh elit terpelajar setelah tahun 1750.
8. Diskriminasi terhadap Orang Yahudi Selama Renaissance
Orang Yahudi menghadapi diskriminasi intens selama Renaissance, terutama setelah Reconquista Spanyol pada 1492 yang berujung pada pengusiran massal orang Yahudi dari Spanyol. Banyak yang melarikan diri ke Italia, namun mendapat reaksi beragam.
Paus Alexander VI, misalnya, menyambut orang Yahudi Spanyal ke Roma dan menjatuhkan denda kepada orang Yahudi lokal yang keberatan. Di sisi lain, di Venesia, orang Yahudi dipindahkan ke ghetto.
Meskipun dianggap sebagai rentenir, peranan ekonomi orang Yahudi penting karena mereka menyediakan pinjaman kecil kepada rakyat jelata. Pembatasan terhadap orang Yahudi hanya membatasi mereka, tidak mengusir, karena pengaruh ekonomi mereka.
Kondisi di ghetto Romawi, yang didirikan pada tahun 1555, sangat keras dengan larangan pekerjaan bergaji tinggi dan persyaratan untuk mengenakan pakaian khusus.
Banyak yang melarikan diri ke timur ke Kekaisaran Ottoman mencari kehidupan yang lebih baik, sementara beberapa tetap di Roma, di mana keturunan mereka masih hidup hingga hari ini.
9. Reputasi Kekejaman Ottoman di Eropa

Ottoman tercatat dalam sejarah karena kebrutalan mereka di berbagai wilayah Eropa, sebuah reputasi yang bertahan hingga era penulisan Edward Freeman dalam bukunya “The Ottoman Power in Europe: Its Nature, Its Growth, and Its Decline” pada tahun 1877.
Kekerasan Ottoman mencakup peristiwa pembantaian besar-besaran, seperti pada tahun 1480 ketika mereka membantai penduduk Otranto di Italia selatan karena menolak untuk masuk Islam.
Selanjutnya, pada tahun 1571, setelah penaklukan Famagusta di Siprus Venesia, mereka membunuh penduduk Kristen setelah kota tersebut menyerah.
Sejarawan John Julius Norwich dalam “The Middle Sea: A History of the Mediterranean” mencatat bahwa mereka bahkan menghukum Marco Antonio Bragadin, komandan Venesia, dengan cara yang sangat kejam; memotong hidung dan telinganya, kemudian mengulitinya hidup-hidup sebelum mengirimkannya ke Sultan sebagai trofi perang.
10. Kerusakan Gigi sebagai Simbol Status Sosial
Selama Renaissance, pengenalan gula dari Asia dan Amerika meningkatkan prevalensi konsumsi gula di kalangan kelas atas Eropa, yang membawa konsekuensi kesehatan seperti kerusakan gigi. Ratu Elizabeth I dari Inggris, misalnya, menderita kerusakan gigi parah karena konsumsi gula.
Di masa itu, kerusakan gigi bahkan dianggap sebagai simbol kebangsawanan dan kemakmuran, hingga wanita kelas bawah di Inggris sengaja mewarnai gigi mereka hitam untuk meniru efek ini.
Meskipun ini menambah estetika tertentu, itu juga menandakan kekurangan gizi dan masalah kesehatan di kalangan bangsawan. Renaissance, meskipun periode kemajuan intelektual dan seni, juga mempertontonkan sisi gelap melalui konflik dan ketidakadilan sosial yang meluas.
Mengungkap 10 fakta kelam di balik kemegahan seni dan budaya Zaman Renaisans memberi kita pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas sejarah.
Meskipun era ini dikenal dengan kontribusinya yang luar biasa dalam berbagai bidang, penting untuk diingat bahwa setiap periode sejarah memiliki sisi gelapnya.
Dengan memahami kedua sisi dari Zaman Renaisans, kita dapat menghargai pencapaian sekaligus belajar dari kekurangan masa lalu. Semoga wawasan ini memperkaya pengetahuan kita dan mendorong kita untuk melihat sejarah dengan lebih kritis dan komprehensif.











